Dukung ‘Brand Indonesia’ bukan ‘Produk Indonesia’

Kamis lalu (4 Juli 2013) saya menghadiri sebuah Talk Show pada event launching buku “Brand Gardener: Brand Indonesia Tumbuh Berkembang” di toko buku Gramedia Pondok Indah Mall 1, yang dihadiri oleh sang author Handoko Hendroyono, Yuswohady, Janoe Arijanto, dan tak ketinggalan Rene Suhardono yang berhalangan hadir tapi tetap berpartisipasi via Skype. Pak Yuswohady membahas mulai dari ‘kamar mandi’. Apa saja brand yang ada di ‘kamar mandi’ Anda? Mulai dari pasta gigi, sabun, sampo, sampai obat/cairan pembersih lantai, semua merupakan brand asing. Saya tegaskan sekali lagi, ‘brand asing’. Ya, ternyata kehidupan sehari-hari kita, secara tidak sadar sudah dikelilingi ‘brand’ asing’. Produsen air mineral nomor 1 di Indonesia pun sebenarnya sudah menjadi ‘brand asing’, meskipun konten produknya 100% lokal, namun kepemilikan saham perusahaan terbesar sudah milik asing. Oleh karenanya, para nara sumber di talk show tesebut sepakat untuk menyebutnya sebagai ‘brand asing’. Operator seluler yang ada di Indonesia sekarang pun mayoritas sudah menjadi ‘brand asing’. Maka, sudah saatnya kita dukung ‘Brand Indonesia’ bukan ‘Produk Indonesia’.

Hal tersebut lah yang seharusnya membuat kita semua, sebagai orang Indonesia, resah. Karena bukan mustahil jika suatu saat nanti kita bukan ‘tuan rumah’ lagi di negeri sendiri, akibat gempuran dahsyat ‘brand asing’ tadi. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ‘brand Indonesia’ sangat membutuhkan modal yang besar dan SDM yang handal, untuk dapat survive dan berkembang. Hal ini terbukti dari beberapa ‘brand Indonesia’ menjadi sangat berkembang setelah menjadi ‘brand asing’. Namun, dengan menjadi ‘brand asing’ otomatis otoritasnya juga menjadi milik asing. Hal ini lah yang seharusnya menjadi pertimbangan para brand owner lokal lainnya agar tidak menjadikan brand-nya menjadi ‘brand asing’. Sebagai solusi, jangan menjual saham mayoritas kepada asing, agar otoritasnya tetap lokal yang memilikinya.

Brand, menurut Pak Yuswohady, adalah the ultimate result dari seluruh bisnis proses. Oleh karenanya, disebut ‘brand Indonesia’ apabila keseluruhan prosesnya murni Indonesia. Di tengah gempuran ‘brand asing’, ternyata tidak sedikit ‘brand Indonesia’ yang berjuang untuk menjadi ‘brand internasional’ namun tetap mempertahankan ke-lokal-annya. Sebut saja Eiger (outdoor equipment), Pecel Lele Lela (resto), Peter Says Denim (fashion), Polygon (sepeda), dan banyak lagi. Semoga para owner ‘brand Indonesia’ bisa tetap mempertahankan ke-lokal-an brand-nya sehingga tidak menjadi ‘brand asing’.

Di akhir acara, sang author buku pak Handoko Hendroyono, menyampaikan bahwa, beliau bersama dengan beberapa komunitas akan melakukan kampanye untuk mendukung ‘brand Indonesia’ agar tetap bisa berjuang untuk menghadapi gempuran ‘brand’asing’. Di era middle class yang saat ini terus berkembang, Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi para ‘brand asing’ dan investor asing untuk ikut berkompetisi meraup keuntungan. Pak Janoe Arijanto, mengatakan, dengan bertumbuhnya kelas menengah Indonesia, di satu sisi kita bangga dan senang, namun di lain sisi kita prihatin. Bangga dan senang karena berarti pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga bertumbuh. Sedih dan prihatin karena hal ini menjadikan masyarakat Indonesia menjadi sangat konsumtif bukannya produktif. Karena, untuk menjadi negara yang maju masyarakat Indonesia harus menjadi masyarakat yang produktif bukan konsumtif.

Sebagai bentuk partisipasi saya dalam mendukung ‘brand Indonesia’, saya memiliki ide untuk membuat sebuah website yang isinya adalah informasi tentang semua ‘brand Indonesia’. Jadi, jika orang mau mencari ‘brand Indonesia’ tinggal berkunjung ke website tersebut. Untuk mempermudah pencarian, bisa dibuat kategori berdasarkan jenis produknya. Misal, mau mencari sabun tinggal ketik “sabun” pada kolom pencarian, lalu akan muncul brand-brand sabun asli Indonesia beserta informasi bagaimana dan di mana dapat membelinya. Mungkinkah? Hehe, ini baru ide yang terlintas di otak saya. Apabila dari rekan-rekan ada yang bisa mewujudkannya, silakan tanpa izin ke saya terlebih dahulu. Namun, alangkah lebih baik jika ide ini diwujudkan oleh kementerian terkait. Semoga ide ini bisa sampai ke telinga para pejabat terkait untuk kemudian diwujudkan. AAMIIN

Sekian dari saya, semoga tulisan ini memberikan manfaat bagi rekan-rekan semua. Mohon maaf kalau ada kesalahan, silakan dikoreksi, dan didiskusikan. Mari dukung ‘Brand Indonesia’!

2 thoughts on “Dukung ‘Brand Indonesia’ bukan ‘Produk Indonesia’

  1. harus berani adu nyali sama brand luar,,,jgn mau diakuisisi asing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s