Pengamen Berjiwa Marketer (2)

Ini adalah tulisan saya yang kedua tentang Pengamen Berjiwa Marketer. Ini juga berdasarkan pengalaman pribadi saya, namun beda objek, beda lokasi, dan beda momen. Kalau dalam tulisan saya yang sebelumnya, objeknya adalah pengamen yang perform dari bis ke bis. Dan pengamen yang akan saya bahas ini adalah yang perform dari rumah ke rumah. Masing-masing memiliki segmen yang berbeda. Yang pertama tentu segmennya adalah para penumpang bis, dan yang kedua segmennya adalah penghuni rumah. Dilihat dari waktunya, pengamen pertama lebih efisien, karena sekali atau beberapa kali bernyanyi sudah berpotensi menghasilkan puluhan ribu (dengan asumsi semua penumpang bis memberi uang Rp1000). Sedangkan pengamen kedua, sekali atau beberapa kali bernyanyi hanya berpotensi mendapatkan beberapa ribu saja. Tentu ini dibutuhkan strategi marketing yang berbeda untuk masing-masing segmen.

Mari kita mulai membahas pengamen yang kedua. Nampaknya mengamen sudah menjadi profesinya sehari-hari untuk mencari nafkah. Hampir setiap hari pengamen tersebut lewat gang rumah saya. Namun, uniknya pengamen ini tidak setiap hari mendatangi rumah yang sama setiap harinya, tidak seperti pengamen kebanyakan yang setiap hari lewat gang yang sama mencari rumah yang pintunya terbuka untuk “performing” di depannya. Pengamen ini tidak setiap hari “perform” di depan rumah saya, meskipun pada saat dia lewat, kondisi pintu rumah saya sedang terbuka. Dan dia juga melihat kondisi penghuni rumah, apabila sedang sibuk dia pun berlalu untuk mencari rumah lainnya yang menurut dia “pas” untuk “performing”. Saya yakin, dia mempunyai EMPATI yang sangat kuat terhadap pelanggannya (para penghuni rumah). Dia bisa memosisikan dirinya sebagai pelanggan. Mungkin dalam benaknya “Klo gw jadi penghuni rumah ini, trus liat dan denger seorang pengamen bernyanyi tiap hari di depan rumah gw, pasti bosen banget bro.” atau “Klo gw jadi penghuni rumah ini yang lagi sibuk, trus ada pengamen nyanyi-nyanyi ga jelas, pasti dongkol banget kan…”

Menurut saya dia bukan pengamen sembarangan. Kualitas suara dan permainan gitarnya pun tergolong bagus, meskipun (maaf) tampang dan penampilannya kurang meyakinkan. Lagu-lagu yang dibawakannya pun bukan lagu murahan, kebanyakan lagu-lagu lama yang dipopulerkan oleh artis-artis ternama di masa lampau. Sehingga Bapak dan Ibu saya pun sangat menikmati setiap kali pengamen ini “perform”. Jiwa entertain-nya sangat melekat dalam dirinya. Hal ini terlihat dari setiap “perform”-nya. Setiap kali “perform”, dia tidak langsung berhenti bernyanyi dan pergi, setelah diberikan uang oleh penghuni rumah. Dia selalu melanjutkan nyanyiannya setelah menerima uang, meskipun tidak full satu lagu. Siapa pun akan merasa sangat dihargai. Dia tidak ingin merugikan pelanggannya. Di sini lah letak pembeda abadinya, atau kalau kata pak Hermawan Kartajaya, differentiation. Dan hal ini juga yang membuat para penghuni rumah segan untuk tidak memberikan uang, atau berkata “maaf pak” (mengusir secara halus).

Dari pengamen tersebut kita bisa belajar, bahwa merketing itu akan lebih dahsyat bila dilakukan dengan EMPATI dan CINTA. Secara tidak sadar dia telah melakukan Marketing With Love. Semoga beliau diberikan kekuatan, kemudahan, dan petunjuk dari Allah SWT dalam setiap aktivitasnya, sehingga bisa bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain, amin.

Sekian tulisan ini dibuat, semoga memberikan inspirasi bagi kita semua dalam beraktivitas. Sukses selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s